SENI KERAJINAN PRASEJARAH

Sejak zaman prasejarah bangsa Indonesia sudah terkenal sebagai bangsa yang menghasilkan benda-benda kerajinan. Maka sejak zaman prasejarah tanda-tanda adanya hasil seni kerajinan dapat dibuktikan dengan diketemukannya peninggalan berupa perkakas dari batu, tulang, gading, manik-manik dan benda gerabah. Tidak sedikit daerah-daerah di Indonesia yang ada dipedalaman/terasing dari luar masih ditemukan kerajinan-kerajinan yang masih asli dan murni, baik teknis maupun artistik. Dan tidak sedikit kerajinan gerabah atau kerajinan perunggu yang masih berpegang pada tradisi kerajinan prasejarah masih terdapat di beberapa daerah.

Unsur-unsur kebudayaan asing makin memperkaya seni kerajinan, disamping itu tradisi seni kerajinan lama tidak mati bahkan ikut menentukan nilai dan mutunya. Pusat-pusat kerajinan pada zaman Islam-purba tidak hanya terdapat dipusat pemerintahan raja atau sultan, juga dikadipaten dan kabupaten. Sesuai dengan perkembangan kehidupan ekonomi terjadilah persinggungan antara kegiatan seni di istana dengan seni yang berkembang di masyarakat luar istana. Maka terjadilah pergeseran nilai seni kerajinan dari benda upacara menjadi benda pakai dengan pertimbangan ekonomi. Apabila di negara-negara lain para seniman Islam mampu menghasilkan bermacam-macam karya kerajinan yang bermutu karena didukung oleh daya kreatif yang tinggi, maka seni kerajinan Indonesia pada zaman Islam dalam perkembangannya lebih banyak mengalami proses penghalusan dan penyempurnaan dari karya seni masa lampau.

Kekayaan hiasan dengan bermacam-macam teknik membawa nafas baru dalam perkembangan seni dekoratif pada waktu itu. Mutu seni dekoratif ini tampak pada berbagai karya seni ukir, seni pandai logam dan seni batik dengan penggunaan motif-motif hias yang diwariskan dari zaman Hindu dan diperkaya dengan motif baru.

Kerajinan Kayu

Pilihan jenis kayu sebagai bahan baku seni kerajinan didasarkan atas berbagai pertimbangan, antara lain kekuatan atau ketahanan, kelenturan, keadaan serat atau urat, warna etc. Persyaratan kayu untuk bahan bangunan lain dengan persyaratan kayu ditekankan kepada kekuatan dan ketahanan, maka kayu untuk bahan kerajinan dibutuhkan persyaratan tambahan, khususnya untuk seni kerajinan istana persyaratan bahan kayu masih ditambah dengan persyaratan lain yang sifatnya nonteknis atau persyaratan yang sifatnya spiritual.

Tuntutan-tuntutan teknis dalam menggarap kayu meliputi sejak penebangan pohon, pengobatan kayu sampai kepada merancang, menyusun kontruksi dan menghias kayu. Seperti pada bangunan istana, benda kerajinan kayu juga menjadi semacam lambang kedudukan raja atau bangsawan. Hal inilah yang dapat membedakan antara karya seni kerajinan klasik dengan seni kerajinan tradisional masyarakat di luar istana.

  1. Perabotan Kraton

Hampir semua benda yang tersimpan dikraton, selain mempunyai nilai-nilai arsitektur karya seni kerajinan, juga mempunyai nilai yang serba religio-magis dan setiap benda yang berada di istana dipandang keramat dan bertuah. Pada yaman Islam pembuatan benda kerajinan ini masih diteruskan dan jarang pula benda-benda peninggalan para walisongo atau sultan dianggap juga sebagai barang-barang pustaka. Kegiatan membuat benda itu sendiri dilakukan oleh para empu. Mebel kraton yang berada dikraton melihatkan disain dari Eropa. Mebel bergaya Eropa atau Kolonial ini dahulu dibawa dari sana oleh para orang Eropa yang diberikan kepada raja-raja untuk hadiah mereka.

Ada pula mebel kraton yang bercorak dari Cina yang dibawa oleh para bedagang. Untuk memberikan ciri bahwa ini adalah perabotan kraton, perabotan tersebut dikasih hiasan/motif yang bercorak kerajan di Eropa. Demikian pula dengan motif hias khas Islam seperti motif kaligrafi Arab dan motif permadani, hiasan pada perabotan kraton tetap menampilkan nafas seni hias Hindu. Gaya mebel kraton dalam perkembangannya menunjukkan tanda-tanda gaya seni lokal sesuai dengan tradisi seni daerahnya masing-masing.kerata kerajaan yang disimpan di kraton-kraton lama Surakarta, Yogyakarta dan Cirebon adalah contoh karya seni dekoratif zaman Islam. Ukiran-ukiranya msih melihatkan corak hindu, baik motif tetumbuhan, kembangan, motif binatang maupun motif perlambangan. Pada kereta inilah dapat dicatat hasil nyaata perpaduan produk disain dari seni kerajinan kayu dan seni hias pada zaman Islam.

Jenis perbotan yang tidak dipengaruhi atau meneruskan gaya seni dari eropa ialah perabotan yang penggunaannya untuk kebutuhan ritual, misalnya tandu khitan atau tandu penganten kerajinan yang disebut jembana. Gamelan juga dianggap sebagai karya seni kerajinan lokal. Ada beberapa benda-benda pusaka dari kraton seperti senjata, seni kerajinan juga ikut memegang peranan seperti dalam pembuatan pegangan dan sarung senjata tajam seperti keris, tombak, pedang, golok etc.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

SUMBER; https://www.google.co.id/search?hl=id&pq=masjid&cp=14&gs_id=7c&xhr=t&q=masjid+kuno+indonesia&client=firefox-a&hs=BQ9&rls=org.mozilla:en-US:official&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.r_cp.r_qf.,cf.osb&biw=1024&bih=629&um=1&ie=UTF-8&tbm=isch&source=og&sa=N&tab=wi&ei=ZeL2T46YDYPZrQfmxJHXBg#um=1&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US%3Aofficial&tbm=isch&sa=1&q=Perabotan+Kraton&oq=Perabotan+Kraton&gs_l=img.12…144284.144284.9.145842.1.1.0.0.0.0.489.489.4-1.1.0…0.0.m2aWKw46waU&pbx=1&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.r_cp.r_qf.,cf.osb&fp=5be1fe70214c9255&biw=1024&bih=629

MASJID, PERWUJUDAN AKULTURASI BUDAYA INDONESIA DENGAN BUDAYA ISLAM 1

Pengaruh agama dan kebudayaan Islam diperkirakan masuk ke Indonesia setelah pengaruh dari Hindu-Budha melalui jalur perdagangan. Diperkirakan agama Islam sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 dan baru pada abad ke-13 M terbentuk kerajaan-kerajaan Islam. Pengaruh-pengaruh tersebut membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Penyebaran agama Islam di Indonesia juga dilakukan melalui cara perdagangan dan perkembangannya dilakukan dengan cara berinteraksi dengan bangsa-bangsa Arab yang membawa pengaruh Islam. Selama berabad-abad pengaruh Islam bercokol di Indonesia. Keberadaan unsur-unsur Islam telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak kerajaan di Indonesia yang bercorak Islam muncul di nusantara.

Agama dan kebudayaan Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat di wilayah Indonesia. Perkembangan ini sendiri, berasal dari masyarakat Indonesia yang berada di daerah pesisir pantai. Dari daerah pesisir pantai inilah, agama dan kebudayaan Islam dikembangkan ke daerah pedalaman. Perkembangan ke daerah ini ditujukan kepada kalangan istana, yaitu raja, keluarga raja dan kaum-kaum bangsawan. Apabila seorang raja sudah masuk/memeluk agama Islam, maka rakyat nya akan mengikuti jejaknya (Raja), mengingat rakyat daerah pedalaman sangat patuh dan taat terhadap perintah-perintah rajanya (paternalistik).

Masuk dan tersosialisasinya Islam di Nusantara berlangsung dengan cara-cara damai. Ketika itu para penyebar agama Islam memilih berbagai unsur lokal sebagai media komunikasi dakwahnya sehingga Islam memperoleh pijakan pengaruh yang luas di Nusantara, serta mengisi ruang-ruang kosong yang kurang tersentuh proses Hinduisasi. Melalui toleransi semacam itu, seni budaya bernafaskan Islam dapat menjadi basis kebudayaan nasional.

Pengaruh-pengaruh unsur dari agama Islam masih dapat kita saksikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama mengenai masjid-masjid yang ada di Indonesia pada masa sekarang. perkembangan Islam di Indonesia dilakukan dengan cara Akulturasi, terutama dengan cara Akulturasi dengan seni bangunan. Akulturasi sendiri ialah sebuah proses percampuran/perpaduan 2 budaya atau lebih yang melahirkan bentuk budaya baru, tetapi unsur-unsur penting budaya lama masih nampak.

Letak masjid-masjid tradisional di Indonesia biasanya disebelah barat alun-alun dan tidak terpisahkan dari komposisi tatakota inti dimana terdapat keraton. Dengan adanya masjid yang letaknya di sebelah barat alun-alun pusat kota, tidak berarti bahwa dalam sebuah kota hanya didirikan sebuah masjid. Berdasarkan data sejarah ternyata dalam sebuah kota pusat kerajaan terdapat beberapa buah masjid. Terutama di Aceh juga ada surau, tajug, langgar atau meunasah yang juga dipakai sebagai tempat ibadah.

Dilihat dari sudut arsitekturnya, masjid-masjid kuno di Indonesia menunjukkan kekhasan yang membedakannya dengan arsitektur masjid-masjid di negeri-negeri Islan lainnya. Kekhasan gaya arsitektur itu dinyatakan oleh atapnya yang bertingkat 2, 3, 5, denahnya berbentuk persegi empat atau bujur sangkar dengan serambi didepan atau disamping, bentuk pondasinya pejal dan tinggi, dan pada bagian depan atau samping terdapat parit berair (kulah). Gaya khas masjid-masjid kuno di Indonesia itu sesuai dengan gaya bangunan keraton dan bagian-bagian lainnya. Pusat kota kerajaan terdiri dari bangunan-bangunan, alun-alun dan jalan-jalan utama yang memuat ke inti kota. Di Jawa pohon beringinyang ditanam di alun-alun, yang disebut wringin-kurung, senantiasa menjadi lambang pusat pemerintahan dimana terdapat keraton, baik tempat raja besar maupun kecil.

Faktor lain mengenai latar belakang gaya bangunan dan beberapa ukuran yang menunjukkan kelanjutan tradisi sebelum Islam mungkin disebabkan pembuatannya mempunyai maksud-maksud yang lebih dalam daripada itu. Maksud tersebut antara lain untuk menarik perhatian masyarakat yang belum masuk Islam atau yang baru saja masuk Islam sehingga mereka senang mengunjungi masjid yang gayanya masih mengingatkan unsur bangunan candi. Perubahan kepercayaan dari agama Hindu/Budha ke Islam memerlukan penyesuaian perlahan-perlahan dan penuh kebijaksanaan. Dalam cerita, hikayat, babad, cara-cara tersebut dilakukan oleh Wali Sanga. Misalnya Sunan Kalijaga dalam mengislamkan masyarakat lapisan atas dan bawah menggunakan unsur-unsur budaya yang sudah ada seperti pertunjukkan wayang yang sedikit demi sedikit tokoh-tokohnya diganti dengan tokoh-tokoh Islam.

Masjid, langgar atau tajug mempunyai fungsi yang berbeda. masjid adalah tempat peribadahan yang dapat dipergunakan untuk salat jum’at, sedangkan tajuk atau langgar digunakan untuk salat berjamaah sehari-hari dan bukan untuk salat jum’at. Karena itu dalam ukuran serta bangunannya berbeda. masjid pada umumnya dibuat/dibangun dalam ukuran yang besar sedangkan tajug/langgar dibangun hanya untuk menampung beberapa orang saja. Masjid-masjid besar yang dibangun dipusat-pusat kerajaan seperti di Samudra Pasai, Demak, Banten, Cirebon, Aceh, Gowa-Makasar, Banjarmasin, Ternatai. Di kerajaan-kerajaan Melayu biasanya masjid besar dinamakan masjid raya, di Jawa disebut Masjid Agung. Sebutan lainnya untuk masjid besar ialah masjid jami.

Masjid, langgar, surau, meunasah dalam arti luas bukan hanya terbatas sebagai tempat untuk melakukan sembahyang atau salat, tetapi juga sebagai pusat kegiatan-kegiatan budaya masyarakat muslim. Karena itu didalam masjid, langgar, meunasah dan lain-lain diucapkan khotbah-khotbah, tablig-tablig mengenai keagamaan-kemasyarakatan untuk kehidupan masyarakat muslim di dunia dan akhirat. Secara tradisional serambi dipergunakan untuk kenduri-kenduri seperti mauludan dan lain-lain yang bersifat semi-profan.

Dibagian belakang dan samping halaman masjid kuno di Indonesia biasanya terdapat pula tempat makam raja-raja atau sultan-sultan, beberapa anggota keluarganya dan orang-orang yang dianggap keramat. Masjid makam tersebut dapat digolongkan sebagai masyhad. Contohnya masjid Demak, masjid Kaadilangu, masjid Ampel, masjid Kuto Gede, masjid Banten dan sebagainya.

Masjid di Indonesia mengandung unsur-unsur budaya dari masa sebelumnya yang mengingatkan pula kepada gaya beberapa bangunan suci seperti candi. Candi diantaranya digunakan untuk tempat penjenazahan abu raja-raja yang dianggap sebagai Dewa-Raja. Demikian pula Raja/Sultan oleh masyarakat dianggap sebagai orang keramat yang memiliki unsur-unsur magis. Gelar yang dipakai seperti pangeran, panembahan, susuhunan membuktikan ke arah pengkeramatan terhadap raja-raja atau sultan-sultan. Unsur tanggapan masyarakat terhadap dewa-raja pada zaman Indonesia-Hindu masih mengingatkan pula kepada tanggapan antara makam sultan dengan masjid agung tidak terpisahkan dalam tanggapan masyarakat Indonesia dahulu. Masjid Demak, Cirebon, Banten, Ampel dianggap masyarakat keramat, dikarenakan berhubungan dengan tanggapan terhadap pendiri-pendirinya. Di masjid-masjit tersebut masyarakat yang menyebut dirinya kaum muslimin tetap berkunjung pada waktu-waktu tertentu untuk berziarah ke makam-makam raja dan mengunjungi pula masjid-masjid yang dianggap keramat tersebut.

Sebagian besar masjid Indonesia tidak memiliki menara, kecuali masjid Kudus (menaranya menyerupai candi Jawa Timur) dan masjid Banten (menaranya menyerupai mercusuar), meskipun begitu masjid-masjid kuno di Indonesia dilengkapi dengan kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan merupakan budaya asli Indonesia.

Di Indonesia sendiri masjid dibagi menjadi 3 jenis, masjid tradisional, masjid makam dan masjid modern. Ketiganya dapat dijabarkan sebagai berikut:

Masjid Tradisional Masjid Makam Masjid Modern
Q     Atapnya berupa Meru disebut atap tumpang berasal dari ijuk/rumbia dengan jumlah ganjil antara 2,3,5 dan tingkat paling atas disebut limas.

Q     Terdapat Mihrab (tempat imam memimpin sholat). Contohnya Masjid Demak dan Masjid Kudus.Q     Disebut demikian karena dibelakang masjid biasanya terdapat makam para wali atau bahkan makan seorang Raja dan kerabatnya. Contohnya Masjid Makam Ampel, Demak, Kudus, Banten.Q   Bagian atap masjid memperoleh pengaruh budaya Persia dan India yaitu berbentuk kubah. Bentuk kubahnya sendiri berbentuk setengah bulatan seperti sebuah stupa Budha, disana juga dilengkapi sebuah Menara, yang digunakan untuk untuk Muazin mengumandangkan azan.

Ciri Masjid di JawaQ     Masjid di Jawa pada umumnya berbentuk pendopo. Pola tiang penopang masjid mengikuti pola tiang penopa rumah tradisional masyarakat di Jawa.

Q     Bangunannya terdiri dari 4 tiang utama (soko guru) dan 12 tiang pembantu disekelilingnya. Jika diperbesar maka tiang diluar ditambah menjadi 24 buah.

Q     Bagian atapnya dibuat atap tumpang bukan tunggal seperti rumah tradisional di Jawa.

Q     Dimasjid juga dilengkapi kentongan dan bedug.

Mengenai asal pengaruh yang terdapat pada masjid-masjid yang mempunyai corak atau gaya Indonesia itu ada dua pendapat. Pendapat pertama, pendapat yang menyatakan pengaruh gaya masjid di Indonesia dari daerah Malabar. Pendapat kedua, bahwa gaya masjid dengan atap bertingakat berasal dari Indonesia sendiri yaitu merupakan tradisi seni bangunan candi yang telah dikenal pada zaman Indonesia-Hindu. Seni bangunan bertingkat tersebut hampir mirip dengan seni bangunan dari Bali seperti dipertunjukkan oleh bangunan wantilan tempat menyabung ayam. Kita juga sudah mengenal model bangunan bertingkat sejak abad ke-14 pada zaman kerajaan Majapahit, pada zaman itu bentuk bangunannya seperti Meru, sebuah gunung khayangan tempat tinggal para Dewa.

Masjid Agung Demak adalah sebuah masjid tertua di Indonesia dan disana dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam. Pendiri masjid ini diperkirakan oleh Raden Patah, seorang Raja pertama pada Kasultanan Demak. Masjid ini mempunyai bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit.

Masjid Demak atapnya bertingkat 3 dan saka gurunya sendiri terbuat dari tatal, yaitu pecahan-pecahan kayu kecil-kecil yang disatukan menjadi sebuah tiang utama di masjid Demak. Saka tatal itu sendiri digambarkan sebagai sebuah kesatuan, kegotong royongan. Didalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya.

Masjid Menara Kudus atau sering juga disebut sebagai Masjid Al-Aqsa dan Masjid Al-manar. Sebuah masjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau pada tahun 956 Hijrah dengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid ini memiliki ciri khusus berupa menara syiar tempat pengumandang adzan yang mirip dengan candi. Sebuah ciri khas bangunan Majapahit-Singasari memang melekat pada arsitektur masjid ini. Masjid ini pula dibuat/disusun dari susunan batu merah tanpa perekat, gapura serta beberapa ornamen yang mengiasinya. Masjid Menara Kudus juga memiliki atap khas bngunan Jawa berupa piramida susun tiga. Disana juga ada gapura kembar yang berada di depan, disekitar makam dan di dalam masjid juga ada gapura kembar. Disana juga ada menara yang bercorak Majapahit-Singasari yang tingginya 17 meter yang hampr mirip berbentuk candi. Selain itu, di sekitar masjid juga terdapat delapan pancuran untuk wudu jamaah masjid. Tiap-tiap pancurannya dihiasi dengan relief arca sebagai ornament penambah estetika. Ada yang berpendapat bahwa kedelapan pancuran wudhu tersebut mengadopsi ajaran Asta Sanghita Marga (Delapan Jalan Kebenaran) yang menjadi pegangan umat dan dari hal tersebutlah Sunan Kudus lebih mudah mendapatkan tempat di tengah masyarakat dan bentuk arsitektur masjid menara kudus juga dapat menggambarkan bahwa pada masa itu disana sudah terjadi toleransi beragama.

Masjid Agung Cirebon berada di sebelah alun-alun desa Lemah Wungkuk Kotamadya Cirebon dan masjid ini dikenal juga dengan nama Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Masjid Pakungwati. Masjid ini didirikan oleh para wali pada tahun 1498 M. Masjid Cirebon ini atapnya terdiri dari 2 tingkatan dan berbentuk limas. Masjid Cirebon ini dibagi menjadi tiga bagian bangunan utama, serambi dan bangunan tempat wudhu. Bangunan utama merupakan bangunan asli sedangkan bagian serambi, baik serambi timur, utara maupun selatan dibuat kemudian dalam bentuk perluasan. Pada dinding masjid ini terdapat sembilan pintu. Pintu-pintu itu berhiaskan sulur-sulur bangun, hiasan tumpal, pilar semua, hiasan pintalan tali, hiasan daun dari anyaman yang mempunyai gaya huruf kufhi. Masjid ini juga tidak memiliki momolo atau mustaka (hiasan yang berada di puncak masjid). Mimbarnya berbentuk kursi yang terbuat dari kayu dan di hias dengan ukiran sulur-sulur daun. Mimbar ini diberi nama Sang Rengganis atau Ratu Tila.

Serambi sebelah timur disaka dengan 16 tiang, yang dibagi menjadi 2 jalur dan keseluruhan atapnya ditutup dengan sirap. Pada dinding tembok serambi terdapat sederetan hiasan medallion yang diisi dengan sulur-sulur daun dan juga anyaman tali yang membentuk hiasan yang menyerupai huruf kuhfi.

Inisiatif mendirikan masjid di Indonesia mula-mula timbul dari sunan atau wali, diperlukan unsur-unsur tradisional yang memandang raja atau sultan dan wali sebagai orang-orang magis. Pada masa itu juga masjid digunakan oleh para wali untuk menyelenggarakan musyawarah mengenai soal-soal kemasyarakatan dan keagamaan. Oleh para raja masjid juga digunakan sebagai pengijaban-pernikahan.

Masjid, langgar, surau, meunasah, dipakai juga untuk madrasah dan sewaktu-waktu  dipakai untuk menginap dan bahkan untuk tempat pengadilan. Di Jawa sendiri masjid-masjid kuno mempunyai bagian yang dinamakan pawestren (pa-istri-an yaitu ruangan sebelah selatan yang terpisah oleh dinding). Dari hal tersebut membuktikan pula bahwa pada zaman dahulu di Jawa kaum wanita turut serta mengambil bagian dalam melakukan sembahyang di masjid bersama-sama dengan kaum pria.

Fungsi masjid itu sendiri cukup luas, tidak hanya menyangkut tempat sembahyang tetapi juga berhubungan dengan urusan wakap, urusan pendidikan keagamaan, urusan peradilan, hukum islam, zakat dan lain-lain. Dengan demikian masjid dapat dianggap sebagai pusat kehidupan masyarakat yang mengilhami kehidupan masyarakat umum di luar masjid. Karena itu masjid, lebih-lebih yang terdapat dipusat kota kerajan, biasanya mempunyai suatu organisasi yang memberikan wadah bagi pejabat-pejabatnya untuk mengurus segala sesuatu mengenai masjid dan urusan-urusan keagamaan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

SUMBER : https://www.google.co.id/search?hl=id&pq=masjid&cp=14&gs_id=7c&xhr=t&q=masjid+kuno+indonesia&client=firefox-a&hs=BQ9&rls=org.mozilla:en-US:official&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.r_cp.r_qf.,cf.osb&biw=1024&bih=629&um=1&ie=UTF-8&tbm=isch&source=og&sa=N&tab=wi&ei=ZeL2T46YDYPZrQfmxJHXBg

KEJAYAAN MAJAPAHIT

Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina[14]. Sumber ini menunjukkan batas terluas sekaligus puncak kejayaan Kemaharajaan Majapahit.

Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja[15]. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.[15][2]

Selain melancarkan serangan dan ekspedisi militer, Majapahit juga menempuh jalan diplomasi dan menjalin persekutuan. Kemungkinan karena didorong alasan politik, Hayam Wuruk berhasrat mempersunting Citraresmi (Pitaloka), putri Kerajaan Sunda sebagai permaisurinya.[16] Pihak Sunda menganggap lamaran ini sebagai perjanjian persekutuan. Pada 1357 rombongan raja Sunda beserta keluarga dan pengawalnya bertolak ke Majapahit mengantarkan sang putri untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Akan tetapi Gajah Mada melihat hal ini sebagai peluang untuk memaksa kerajaan Sunda takluk di bawah Majapahit. Pertarungan antara keluarga kerajaan Sunda dengan tentara Majapahit di lapangan Bubat tidak terelakkan. Meski dengan gagah berani memberikan perlawanan, keluarga kerajaan Sunda kewalahan dan akhirnya dikalahkan. Hampir seluruh rombongan keluarga kerajaan Sunda dapat dibinasakan secara kejam.[17] Tradisi menyebutkan bahwa sang putri yang kecewa, dengan hati remuk redam melakukan “bela pati”, bunuh diri untuk membela kehormatan negaranya.[18] Kisah Pasunda Bubat menjadi tema utama dalam naskah Kidung Sunda yang disusun pada zaman kemudian di Bali. Kisah ini disinggung dalam Pararaton tetapi sama sekali tidak disebutkan dalam Nagarakretagama.

Kakawin Nagarakretagama yang disusun pada tahun 1365 menyebutkan budaya keraton yang adiluhung, anggun, dan canggih, dengan cita rasa seni dan sastra yang halus dan tinggi, serta sistem ritual keagamaan yang rumit. Sang pujangga menggambarkan Majapahit sebagai pusat mandala raksasa yang membentang dari Sumatera ke Papua, mencakup Semenanjung Malaya dan Maluku. Tradisi lokal di berbagai daerah di Nusantara masih mencatat kisah legenda mengenai kekuasaan Majapahit. Administrasi pemerintahan langsung oleh kerajaan Majapahit hanya mencakup wilayah Jawa Timur dan Bali, di luar daerah itu hanya semacam pemerintahan otonomi luas, pembayaran upeti berkala, dan pengakuan kedaulatan Majapahit atas mereka. Akan tetapi segala pemberontakan atau tantangan bagi ketuanan Majapahit atas daerah itu dapat mengundang reaksi keras.[19]

Pada tahun 1377, beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada, Majapahit melancarkan serangan laut untuk menumpas pemberontakan di Palembang.[2]

Meskipun penguasa Majapahit memperluas kekuasaannya pada berbagai pulau dan kadang-kadang menyerang kerajaan tetangga, perhatian utama Majapahit nampaknya adalah mendapatkan porsi terbesar dan mengendalikan perdagangan di kepulauan Nusantara. Pada saat inilah pedagang muslim dan penyebar agama Islam mulai memasuki kawasan ini.

Majapahit

Majapahit adalah sebuah kerajaan di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya dan mejadi Kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan HinduBuddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.[2] Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.

Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi[10] ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya.[10][11] Kublai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.

Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah membunuh Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja, dan rasa “pahit” dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut karena mereka berada di teritori asing.[12][13] Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka harus terpaksa menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.

Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang tepercaya Kertarajasa, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil. Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang tepercaya raja, agar ia dapat mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati.[13] Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309.

Anak dan penerus Wijaya, Jayanegara, Pararaton menyebutnya Kala Gemet, yang berarti “penjahat lemah”. Kira-kira pada suatu waktu dalam kurun pemerintahan Jayanegara, seorang pendeta Italia, Odorico da Pordenone mengunjungi keraton Majapahit di Jawa. Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi bhiksuni. Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Pada tahun 1336, Tribhuwana menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih, pada saat pelantikannya Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang menunjukkan rencananya untuk melebarkan kekuasaan Majapahit dan membangun sebuah kemaharajaan. Selama kekuasaan Tribhuwana, kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di kepulauan Nusantara. Tribhuwana berkuasa di Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun 1350. Ia diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.